Planology - a Brainstorming of @doniachlay

  • 6
Aku anak IPA yang into IPS banget.

Pernah aku mikir kenapa ga ambil IPS aja dari dulu? Emang sih matematika sama fisika-ku pas kelas sepuluh kepala sembilan, dan bio - kimia kepala delapan menengahan deh. Karena itu, aku mikir udah pasti takdirku masuk IPA. Nilai aja udah kek gitu banget. Di samping itu, I was fed of Sociology when I was in the 10th grade. Masa materi "real life" ulangan harus persis buku cetak?

Kelas 11, setelah aktif di banyak ekskul dan ikutan debat bahasa Inggris, aku sadar kalo aku punya banyak interest di bidang sosial. Aku bukan tipe orang yang bisa berkutat dengan waktu yang cukup lama menghadapi fisika, matematika, terutama KIMIA yang ajibuset nyengsarain banget. Matematikaku agak turun, dan fisikaku stay kepala sembilan. Walau gitu, biologiku pas batas tuntas. Shocking banget buat banyak pihak yang ngerasa aku ini anak pinter di kelas.

Kenapa gitu? Emang sih di kelas aku selalu masuk 4 besar. Tapi, mapel yang menyumbangkan nilai bukan mapel eksakta. Selain fisika, yang bikin jumalah nilaiku bagus yaitu: Bahasa Inggris, Sejarah, Kesenian, PKn, dan Bahasa Jerman. Oke, apa pula itu Bahasa Jerman nilainya bisa sebagus itu? Aku yakin banget kalau besok aku harus ambil fakultas teknik YANG GAK ADA kimia sama biologinya. Atau cari fakultas teknik yang ada Bahasa Jermannya? Hahahahaha.

So, mulailah aku ngecek laman SNMPTN dan nemu "Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota" (PWK) di UGM. Keknya asik tuh, ngga ada biologi, kimia, dan mungkin fisika sama matematiknya dikit. Fakultas Teknik. Tapi, kenapa dari namanya keliatan "sosial" banget?



Juli 2011, aku berangkat ke Amerika Serikat. New York, Chicago, Santa Fe, Taos, Madison, Milwaukee, Washington D.C., Minneapolis, Denver, dan lain lainya - OH MY GOD keren abis! Bahkan kota kecilku, Chilton, bener - bener asri dan indah. Dari situlah aku tertarik banget sama perkotaan yang rapi dan teratur. Dan beberapa kali muncul ide buat masuk PWK di otakku selama di sana.

Begitu aku balik ke Indonesia, ngulang kelas 3, aku ngerasa IPA itu berat banget. Walaupun biologi sama kimia tambah "mudeng", cuman fisika masih stuck di materi muatan listrik. Walau begitu, aku ngerasa banget kalau harus belajar super giat demi ngejar materi kelas 10 sama 11. Selanjutnya, ada tawaran beasiswa PU. Aku ambil akuntansi, karena aku pengen langsung kerja dan dapet duit dengan gampang (jadi akuntan maksudnya. hahahahahaha) dan alhamdulillah keterima. Cuman, buat aku PU aja gak cukup. Pilihan pertamaku, dari kecil sampe sekarang, tetep UGM. 

Mulai beberapa minggu yang lalu, aku sering banget merenung. Istilah kerennya brainstorming (Tsaah!). Mau ambil apa di UGM nanti? Arsitektur karena aku suka nggambar? Teknik sipil karena aku suka fisika + nggambar? Atau HI karena aku pernah go internasional? Aku anak IPA, dan sebaiknya aku masuk fakultas yang berhubungan dengan apa yang telah aku pelajari selama ini.

Tiba - tiba terbesit dalam benakku tentang PWK, mimpiku sebelum aku berangkat ke AS. Aku googling berkali - kali, tanya alumni, tanya temen - temen satu angkatan dulu yang sekarang udah kuliah. Dan ini yang aku dapet:
  • "PWK itu sering survey, mobilitas tinggi"
  • "PWK itu semester 4 ke luar negri loh, Don"
  • "Planologi? Belajar tumbuhan Don?"
  • "PWK itu itu asik, mempelajari struktur kota, dan merencanakan pembangunan wilayah"
  • "Kalau Arsitektur merancang desain bangunan, Teknik Sipil merancang kerangka bangunan, PWK itu merancang tempat dibangunnya bangunan itu dengan berbagai pendekatan supaya fungsi bangunan tersebut dapat dioptimalkan"
  • "Planologi? Emang kamu mau belajar astronomi?"
  • "PWK itu fakultas teknik yang paling sosial! Kalau kamu anak IPA tapi berjiwa IPS, kayaknya PWK bakalan pas banget buat kamu"

WOW! Aku ngga nyangka banget dengan feedback yang aku dapet tentang PWK. Emang PWK kurang begitu dikenal di masyarakat ketimbang teknik sipil, industri, dan lain - lain (buktinya, banyak yang ngira planologi itu berhubungan dengan tumbuhan - bahkan planet!). Cuma, PWK ini bener - bener pas sama interestku. Aku anak IPA yang into IPS. Dan, somehow, intuisiku mengatakan kalo "inilah jalanmu, Don!". :)

Lalu, muncul rasa bimbang di hatiku. Ambil plano UGM atau plano ITB? Kata kakak angkatanku yang kuliah di ITB, plano ITB itu JAUH LEBIH BAGUS ketimbang UGM. Bahkan, banyak lowongan pekerjaan PWK yang diberikan langsung ke ITB, bukan ke PWK lainnya. Dan, dari namanya aja udah jelas kalau yang berhubungan dengan teknik pasti yang terbaik (di Indonesia ya) adalah ITB.

Kemarin, iseng aku nemu blog seorang alumni PWK UNS bernama Pembayun Sekaringtyas. Sebenarnya, sebelum berangkat ke Amrik pun aku udah baca blog dia. Cuma gak follow aja, toh waktu itu aku cuma penasaran tentang PWK. Setahun setelah terakhir membuka blognya, Kak Sekar ini sekarang sedang melanjutkan studinya di Stockholm University, Swedia. Dia mengambil beasiswa di Urban Planning. Di blognya, aku benar - benar dipaksa terpukau dengan prestasi - prestasi yang diraihnya. BANYAK BANGET. Jujur, setiap kali googling universitas, gak pernah terbesit di pikiranku tentang UNS. Ini bukti buat aku juga kalau universitas itu nggak hanya UGM, ITB, dan UI aja. Univ lain juga bisa berprestasi kok ;)

Karena aku penasaran banget tentang PWK, dan kebetulan Kak Sekar memposting contact email di blognya, aku kirim email ini ke dia:

Hi Kak Sekar! :)


Saya Doni, salah satu pembaca blog kakak. Saya sekarang sedang duduk di bangku kelas XII XMA. Semenjak kelas sebelas dua tahun lalu, saya sudah tertarik dengan Prodi PWK. Saya melakukan banyak googling dan akhirnya menemukan blog kakak beberapa bulan yang lalu. Saya baca isinya, dan sungguh, blog kakak benar - benar membuat saya wondering betapa kerennya bisa masuk plano. 


Saya siswa IPA dan suka sekali dengan isu sosial. Saya aktif ikut debat Bhs. Inggris dan klub - klub lain di sekolah. Saya awalnya kuat di fisika dan matematika, tapi saya merasa kalau saya ingin bisa masuk fakultas teknik yang "into social". Dan kata beberapa alumni sekolah saya, PWK adalah prodi ter-sosial di fakultas teknik beberapa univ di Indonesia.


Sebenarnya, saya ingin bertanya ke kakak. Kak, sebenarnya, apa sih yang dipelajari di plano? Dan perbedaan plano tiap universitas itu apa? Saya masih bingung antara melanjutkan ke UGM/ITB/UNDIP. 


Selanjutnya, saya ingin bertanya, job outlook setelah lulus plano di mana saja kak? Dan apakah ada kesempatan untuk go keluar negri, baik saat menempuh pendidikan maupun untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya? 


Terima kasih kaka karena telah membagi pengalaman kakak di blog kakak. Semoga dengan email ini saya bisa menjalin komunikasi untuk mempelajari lebih lanjut tentang planologi. 


Salam Hangat,


Doni Achsan

Tak lama, di hari itu juga, Kak Sekar akhirnya membalas emailku. Emailnya cukup panjang, dan membuatku menarik nafas panjang.

Here we go:


Hai Doni!


Rasanya kita berpijak pada titik tolak yang hampir mirip. Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya juga bisa dibilang "into social", nilai-nilai saya lebih bagus di pelajaran sosial ketimbang eksakta, juga minat saya ke bidang ekstrakurikuler yang jauh dari keterlibatan angka-angka. Padahal saya masuk kelas akselerasi yang dijuruskan IPA sejak kelas X. 


Betul sekali jika ada yang bilang PWK adalah program studi ter-sosial di fakultas teknik. Saking multidisiplin-nya, susah sekali untuk dapat mendefinisikan core keilmuan PWK. Apa yang dipelajari menjumput disana-sini. Ekonomi, kebijakan publik, geografi, sosiologi, arsitektur, geologi.. just to name a few. Tapi justru disitulah menariknya, mempelajari banyak ilmu (meski tidak menjadi ahli di tiap ilmu tersebut, hanya kulit-kulitnya saja).


PWK di Indonesia hampir sebagian besar menjadi satu keluarga dengan prodi Arsitektur. PWK mempelajari kota secara makro, 2 dimensi, sedangkan Arsitektur mempelajari bangunan-bangunan secara lebih mikro, dalam kacamata 3 dimensi. PWK beririsan dengan Arsitektur di ranah yang lebih mezzo, dinamai "Perancangan Kota" (Urban Design). PWK mempelajari tentang bagaimana merencanakan sebuah kota agar berfungsi dengan baik. Aspeknya sangat sangat luas, mulai dari penyediaan infrastruktur (transportasi, pembuangan sampah, drainase, air bersih), mengakomodir kebutuhan dasar penduduk untuk hidup (perumahan, sarana kesehatan, pendidikan, etc), berekreasi (tourism, cultural heritage, parks, etc), berinteraksi (ruang-ruang publik); menjamin perekonomian berjalan, menjaga daya dukung lingkungan, hingga kebencanaan! Perencanaan yang dilakukan tentu saja tidak terlepas dari dimensi keruangan (spatial), baik lingkupnya distrik, kawasan, blok, kota, provinsi, regional, etc.


Setiap universitas yang membuka planologi di Indonesia biasanya memiliki spesialisasi tersendiri, misal: UNS yang lebih fokus terhadap perumahan dan permukiman, ITS pada transportasi, UNTAR pada real estate. Tapi ini tidak perlu menjadi soal, karena semua mahasiswa planologi di Indonesia dibekali kurikulum dasar yang sama, diatur dalam standard kurikulumnya ASPI (Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia). Lagipula, nanti pasti disediakan berbagai mata kuliah pilihan yang bisa dipilih sesuai minat. Sebagai informasi, saya dulu sekolah di UNS, dan saya memilih untuk mendalami industri budaya dalam tugas akhir saya.  


Kalau Doni suka dengan isu sosial, dan ingin mempelajarinya dalam sudut pandang yang holistik, maka PWK adalah pilihan yang tepat. Kalau definisi dari tempat saya belajar sekarang, "Urban and Regional Planning is about shaping and structuring the future of society". Terdengar wow sekali ya, hehe :-)

Prospek pekerjaan sangat terbuka lebar terutama dari sektor pemerintahan (pusat dan daerah), NGO, maupun swasta (jasa konsultan perencanaan). Kalau tertarik pada perancangan, bisa juga menjadi urban designer. Namun pada kenyataannya, urban design lebih banyak dikuasi oleh arsitek karena mereka dibekali ilmu perancangan yang lebih mumpuni sejak awal kuliah. Dalam praktek di lapangan, perencanaan kota menjadi sangat bertalian dengan politik dan kebijakan publik, apalagi saat berbicara tentang kota yang kompleks dan banyak kepentingan. Sebagai planner, bisa mengambil peran advokasi dan fasilitator untuk masyarakat, teknokrat (menjadi analis teknis bagi pemerintah), atau birokrat (pengambil kebijakan). 


Kesempatan ke luar negeri sangat banyak. Justru memang seorang calon planner semestinya sering-sering melakukan ekskursi ke kota-kota yang punya good practices. Saya pernah dapat kesempatan beasiswa travelling fellowship selama sebulan di Australia saat masih kuliah. Sekarang Alhamdulillah melanjutkan sekolah planologi lagi di LN dengan beasiswa. Justru beasiswa LN banyak sekali yang ditawarkan untuk bidang PWK, karena bidangnya memang fokus ke public domain, yang diharapkan bisa langsung dirasakan oleh masyarakat umum dan mendukung pembangunan sebuah negara. 


Semoga bisa membantu memberi gambaran ya tentang PWK, kalau ada pertanyaan lagi, jangan sungkan-sungkan ditanyakan. :)


Salam,


Pembayun Sekaringtyas
Master's Student in Urban and Regional Planning
Department of Human Geography

Faculty of Social Science
Stockholm University
SWEDEN


WOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOW!


Subhanallah, inilah balesan kalau kita tanya ke orang yang benar - benar punya pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni akan suatu bidang. Jawaban Kak Sekar ini bikin hatiku semakin berteriak buat ambil PWK. Ya Allah, aku tahu saingan untuk masuk PWK UGM samatlah susah, apalagi ITB.



Walau mungkin suatu saat pilihanku berubah, tapi pada saat ini aku sudah memproritaskan jurusan mana yang ingin aku ambil. Pada saat ini, pilihan pertamaku tetap UGM. Aku yakin pilihan ini memungkinkan untuk berubah pada suatu waktu ini. Dengan sistem jalur undangan, maka ini lah pilihan yang aku ambil"

Universitas 1; Universitas Gajah Mada
Pilihan 1: Perencanaan Wilayah dan Kota
Pilihan 2: Ilmu Hubungan Internasional

Universitas 2: Institut Teknologi Bandung
Pilihan 1: SAPPK - Ambil planologi untuk penjurusan nanti
Pilihan 2: FSRD - Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Kenapa pilihan universitas keduanya ITB? Jujur, aku yakin bakalan nggak diterima di ITB. Karena, UGM/UI/ITB tidak akan menerima siswa yang menomorduakan mereka di jalur undangan. Kalau saja di ITB ada HI, mungkin pilihan pertamaku akan langsung menuju ITB. Lagipula, aku yakin, jika aku tidak diterima di UGM aku akan mengambil beasiswa President University. Jadi ITB masuk proritas ke tiga. Dan masih ada pilihan lain seperti STIS/ Paramadina Fellowship. Masih ada banyak plan yang perlu aku siapin, dan masih ada banyak perubahan yang perlu diimplementasikan.

Mungkin, baru ini dulu "masa depan" yang sudah aku rancang. Aku yakin, dengan merancang sebaik mungkin, kita bisa mengoptimalkan tujuan yang kita ingin capai. Ditambah lagi, aku perlu memfokuskan mana jurusan yang mampu menampung kemampuan dan aspirasiku. Semoga dengan ini aku menjadi lebih termotivasi untuk bisa lebih maju lagi.


Brainstorming done - for now only!


Doni Achsan

6 comments:

  1. semangat doniiiiiii!!! \(^.^)/

    ReplyDelete
  2. Hai Hayyu! Sip, bakal semangat. Kamu juga semangat ya di ITB. Hahaha anak rantau harus, ugh, irit duit :')

    ReplyDelete
  3. kak aku jurusan ips nih pengen masuk PWK.. kira2 bisa ngikutin materi kuliahnya gak ya? apakah di PWK juga ada pelajaran fisika kimia dan biologi yang susah buat aku yang jurusan ips? tlg dibales ya kaa.. mksh :)

    ReplyDelete

leave your reply here