What Our World Said about Exchange Student
So, I have this project from my high school to make senior paper for my graduation. It was a really tough time, gathering tons of informatio...
So, I have this project from my high school to make senior paper for my graduation. It was a really tough time, gathering tons of information and try to come up with a good idea. Finally I decided to write about "Exchange Students and Intercultural Learning". I did some research, making polls and asked some of my friends in Indonesia or other countries about my project. Finally, I got these statements from quick interviews through social networking. It was kind of tough to compile these things, but I go hope you'll enjoy how great these quotes are :)
![]() |
| Credits: Bina Antarbudaya |
~~~
“In your opinion, what is/are the benefit(s) of
joining international club like AFS Club?”
“Menurut pendat Anda, apa saja manfaat dengan
bergabung dalam klub internasional seperti AFS Club?
~~~
“I don’t really know. I guess I
liked it just to learn more about different cultures and stuffs”
(Saya tidak begitu tahu. Saya kira saya hanya suka belajar
tentang budaya – budaya yang berbeda dan hal – hal lain.)
-
Kelly
Boetcherr, former member of Chilton High School AFS Club, Wisconsin, USA
“You get to meet new people!”
(Kamu bisa bertemu orang – orang baru!)
-
MacKenzie
Wollersheim, former Vice President of Chilton High School AFS Club. Now
studying St. Norbert College, Wisconsin, USA
“Acceptance and
understanding of different cultures is gained.”
(Rasa menerima dan pemahaman akan budaya – budaya
yang berbeda dapat didapat.)
-
Spencer
Morgan, President of Chilton High School AFS Club, Wisconsin, USA.
~~~
“What is/are your reason(s) to be an exchange
student?”
“Apa alasan ( - alasan) anda untuk menjadi siswa
pertukaran pelajar?
~~~
“I want to open my eyes about the world and learn about myself,
and I 'answered' all of my reasons to be an exchange students.”
(Aku ingin membuka mataku akan
dunia dan mengenal diriku sendiri, dan aku telah “menjawab” semua alasan –
alasanku tersebut dengan menjadi ssiwa pertukaran pelajar.)
-
Gladhys
Elliona Syahutari, Jakarta. Alumni YES Indonesia ke Amerika Serikat 2011/2012.
“Untuk keluar dari comfort zone gue.”
-
Kenzo
Alif Adhisatrio, Jakarta. Alumni AFS Indonesia ke Perancis 2011/2012.
“Gua ingin berkelana dan membuka mata tentang dunia. Bahasa
ringannya sih jalan – jalan”
-
Pattih
Primasakti, Batusangkar. Alumni YES Indonesia ke Amerika Serikat 2011/2012.
“To
represent my country. It could be my one time in life event. Visiting another
country with many differences to come and learn different culture”
(Untuk merepresentasikan negaraku. Bisa sekali saja
seumur hidup. Mengunjungi negara lain yang mempunyai banyak perbedaan untuk
didatangi dan belajar budaya yang berbeda.)
-
Radiv
Annaba, Malang. Alumni YES Indonesia ke Amerika Serikat 2010/2011.
“I wanted to do something different, and travel to another
country. I wanted to do a summer-language-camp thing, but when I realized I was
too old, I decided to a whole year program! I wanted to experience a whole
different culture, a different family life and school life. I wanted to try a
lot of new stuff aaaaaand become more independent. I also wanted to learn to
speak English fluently! Hmmm.. I think thats it”
(Aku ingin melakukan hal yang
berbeda, dan mengunjungi negara lain. Aku (dulu) ingin melakukan kamp bahasa
(kegiatan kamping pengenalan bahasa lain untuk remaja. Red.), namun aku
menyadari bahwa aku terlalu tua, dan aku memutuskan untuk melakuakn program
setahun (sekalian)! Aku ingin mengalami suatu budaya yang benar – benar
berbeda, kehidupan keluarga dan sekolah yang berbeda. Aku ingin mencoba hal –
hal baru daaaaaaan menjadi lebih mandiri.Aku juga ingin belajar untuk berbicara
Bahasa Inggris dengan lancar! Hmmm, aku kira hal – hal itu lah)
-
Julie
Glimsdal, Norwegia. Alumni AFS Norway ke Amerika Serikat 2011/2012.
“I became an exchange
student for the main reason to explore an unknown country, the culture and the
people that make it. Also to bring my culture to a different country by being
an ambassador, teaching other people of what my culture is.”
(Aku
menjadi siswa pertukaran pelajar untuk alasan utama (yaitu) mengeksplorasi
sebuah negara tak dikenal, budaya dan masyarakat yang membuatnya. Juga untuk
membawa budayaku ke negara yang berbeda dengan menjadi duta, mengajari orang –
orang lain apa budaku tersebut).
-
Toma Pavlov, Bulgaria. Alumni YES ke
Amerika Serikat 2011/2012
“I wanted to experience a new culture - to
have a better understanding of the world- make some differences-see how strong
I'm to deal with completely new life!”
(Aku ingin mengalami
sebuah budaya baru – untuk mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang dunia –
membuat beberapa perbedaan – dan melihat seberapa kuat diriku untuk menghadapai
kehidupan yang benar – benar baru!)
-
Olta
Myslimi, Albania. Alumni YES ke Amerika Serikat 2011/2012
~~~
“What is/are the benefit(s) you get from being an
exchange student?”
“Apa saja manfaat yang Anda dapat dari menjadi siswa
pertukaran pelajar?
~~~
“Being more open minded with the world diverstity. Seeing the
other culture from the different prespective.”
(Menjadi lebih terbuka akan
perbedaan (di) dunia. Melihat budaya lain dari perspektif yang berbeda)
-
Yanti
Kusmiati, Batam. Sekarang berada di Oregon, Amerika Serikat dalam program YES.
“Jadi lebih kenal diri sendiri”
-
Kenzo
Alif Adhisatrio, Jakarta. Alumni AFS Indonesia ke Perancis 2011/2012.
“Gua jadi lebih mature (dewasa. Red), confident (percaya
diri. Red), lebih mudah meyelesaikan
masalah dalam hidup, terus mampu berpikir dalam perspektif yg berbeda.”
-
Pattih
Primasakti, Batusangkar. Alumni YES Indonesia ke Amerika Serikat 2011/2012.
“I became more independent, learned how it feels to be «alone». I
learned so much more about myself, my inner self. Ahahahaha. Aaaand I learned
how to get in contact with new people and how to make new friendships. I also
learned the importance of family. Aaaaaand I became more «open-minded» and I
decided that prejudices are STUPID! I feel like I got a whole new look at my
own life, myself, the world and people around me. AND I became so much more
curious!”
(Aku menjadi lebih
mandiri, belajar bagaimana rasanya “sendirian”. Aku lebih belajar tentang
diriku, diri (yang ada) di dalamku. Ahahahaha. Daaan aku belajar bagaimana
berkomunikasi dengan orang – orang baru dan menjalin pertemanan baru. Aku juga
belajar arti penting keluarga. Daaaaaaan aku menjadi lebih terbuka dan
memutuskan bahwa prasangka itu BODOH! Aku merasa bahwa aku mempunyai pandangan
yang benar – benar baru pada hiduoku, diriku, dunia dan orang – orang di
sekitarku. DAN aku menjadi sangat lebih penasaran!)
-
Julie
Glimsdal, Norwegia. Alumni AFS Norway ke Amerika Serikat 2011/2012.
“Great ones: getting a
wider view of life and practicing your foreign language.”
(Yang paling hebat: mendapat pendangan yang
lebih luas akan hidup dan berlatih bahasa asingmu)
-
Toma Pavlov, Bulgaria. Alumni YES ke
Amerika Serikat 2011/2012
“First you improve the
language of the country you’re hosted-make new connection-grow up-get more
matured-win privacy and faith in yourself”
(Pertama
kamu membuat lebih baik bahasa negara kamu ditempatkan – membuat koneksi baru –
tumbuh – dan menjadi lebih dewasa – memenangkan privasi dan kepercayaan di
dirimu)
-
Olta
Myslimi, Albania. Alumni YES ke Amerika Serikat 2011/2012
~~~
“What will you do after you finished your exchange
year?”
“Apa yang aka kamu lakukan setelah kamu
menyelesaikan tahun pertukaranmu?”
~~~
“I really want to inspire people
and contribute to society.”
(Aku ingin sekali menginspirasi orang – orang dan
berkontribusi bada masyarakat.)
-
Gladhys
Elliona Syahutari, Jakarta. Alumni YES Indonesia ke Amerika Serikat 2011/2012.
“Breaking stereotype.”
(Menyelesaikan (menghentikan)
stereotipe)
-
Yanti
Kusmiati, Batam. Sekarang berada di Oregon, Amerika Serikat dalam program YES.
“Cari pacar. Ada yang
mau?”
-
Kenzo
Alif Adhisatrio, Jakarta. Alumni AFS Indonesia ke Perancis 2011/2012.
“Masuk sekolah lagi. Kuliah.”
-
Pattih
Primasakti, Batusangkar. Alumni YES Indonesia ke Amerika Serikat 2011/2012.
“Well,
being an exchange student, I get so many friends in every continent. I share
them my culture. They taught me their culture. It opened up my mind!”
(Yah, dengan menjadi siswa pertukaran pelajar, aku
mendapat banyak sekali teman di setiap benua. Aku membagi mereka budayaku.
Mereka mengajari aku budaya mereka. Hal tersebut membuka pikiranku!)
-
Radiv
Annaba, Malang. Alumni YES Indonesia ke Amerika Serikat 2010/2011.
“I have no idea what I want to do. Well, I’m gonna finish my last year in
High School in Norway. Then I’m gonna go to a college/university or something.
But I feel like I have many more choices and opportunities after my exchange
year, I realized that there is a big, big world with so many interesting cultures
and countries, outside of little Norway. I WANNA TRAVEL and gain new
experiences and memories. I have NO idea what i want to do when I grow up, but
I want to meet thousands of people from around the world, because its AWESOME!”
(Aku
tidak punya gambaran/ide tentang apa yang akan aku lakukan. Aku akan
menyelesaikan tahun terakhirku di SMA di Norwegia. Lalu aku akan pergi ke
universitas atau lainnya. Tapi aku merasa aku mempunyai banyak pilihan dan
kesempatan lainnya setelah tahun pertukaranku. Aku menyadari bahwa ada suatu
dunia yang sangat besar dengan banyak budaya – budaya dan negara - negara
menarik, di luar Norwegia yang kecil. AKU AKAN BEPERGIAN dan mendapatkan
pengalaman – pengalaman dan kenangan - kenangan baru. Aku TIDAK ADA gambaran
tentang apa yang akan aku lakukan ketika aku tumbuh (dewasa), tapi aku ingin
bertemu ribuan orang dari seluruh penjuru dunia, karena hal itu LUAR BIASA!)
-
Julie
Glimsdal, Norwegia. Alumni AFS Norway ke Amerika Serikat 2011/2012.
“After finishing my
exchange year it is important for me not to loose contact with the new contacts
I made, to show my peers in my home country that didn't have the opportunity to
be an exchange student, to show them what it was like, to show them part of the
culture that I was in etc”
(Setelah menyelesaikan tahun pertukaranku
adalah penting bagiku untuk tidak kehilangan kontak (putus komunikasi. Red.)
yang aku buat, untuk menunjukkan ke orang – orang di negara asalku yang tidak
memiliki kesempatan untuk menjadi siswa pertukaran pelajar, untuk menunjukkan
kepada mereka seperti apa itu, untuk menunjukkan merka sebagian budaya yang aku
(alami), dan lain – lain.)
-
Toma Pavlov, Bulgaria. Alumni YES ke
Amerika Serikat 2011/2012
“Trying to put what I
learned in real life and do my best.”
(Mencoba
untuk melakukan apa yang aku pelajari di kehidupan nyata dan melakukan(nya)
semaksimal mungkin)
-
Olta
Myslimi, Albania. Alumni YES ke Amerika Serikat 2011/2012
Redup Binar Cahaya
Hi guys! Jadi, seminggu yang lalu aku dapet tugas buat bikin cerpen Bahasa Indonesia. Bu Dahlia, pengampu mapel tersebut, menghendaki...
Hi guys!
Jadi, seminggu yang lalu aku dapet tugas buat bikin cerpen Bahasa Indonesia. Bu Dahlia, pengampu mapel tersebut, menghendaki kami semua untuk membuat cerpen yang telah diberikan alur awalnya. Dan semua berasal dari kisah nyata yang dialami (maksudnya, didapat) oleh Bu Dahlia sendiri. Jadi, ada dua alur cerita yang ditawarkan;
1. Saudara sesusu - kisah nyata
Di sini, ada seorang perempuan yang menikah dengan seorang lelaki. Setelah sekian tahun menjalin cinta, keduanya dikarunia beberapa anak dan hidup dalam susana yang harmonis. Suatu ketika, datang kakak si perempuan dari Kalimantan, meminta perempuan ini bercerai dengan sang suami karena si suami adalah saudara sesusunya.
2. Cinta Terlarang (atau apa deh, terserah aja judulnya) - kisah nyata
Seorang gadis dari Jakarta jatuh cinta dengan kakak kelasnya saat dia melanjutkan kuliah di Semarang. Mereka berpacaran dan akhirnya si gadis ini hamil diluar nikah. Saat si laki - laki meminta restu orang tuanya untuk menikahi si gadis, terungkap fakta mengejutkan bahwa si gadis ini adalah adik kandungnya sendiri.
Oke, jujur ini agak tough. Ceritanya udah dibikin dasarnya dan kita harus ngembangin sesuai imajinasi kita. Dua hari yang lalu, mulai dari jam 9 malam, aku buat cerpen ini dengan perombakan habis - habisan.
Ya, aku bikin cerita horor.
Kemarin, kami di kelas harus maju untuk membacakan cerpen kami. Ada yang sad ending, ada pula yang happy ending. Terutama karya - karya temen - temen di kelas yang bener - bener keren dan menyayat hati (hahaha, ini repetisi katanya lebay amat ya?). Jadi ngerasa aneh nih buat bawain cerita horror.
Walau begitu, here we go! Enjoy this story - which gave my friend Dita a weird nightmare yesterday!
-------------------------------------------------------------------------------
Redup Binar Cahaya
Risqika Edni Doni Achsan/XII IA 1/23
![]() |
| Just a preview to the story. Credit; Google |
Malam ini, hilang sudah semua akal logikaku.
Aku lihat hujan bertambah deras menghujam
kulitku. Aku tak bergeming, tetap kulanjutkan langkah gontaiku. Bulan yang
biasa menemani malam – malamku pun enggan menunjukkan diri. Aku tahu, setelah
ini aku akan menemukan kebahagiaan. Semua orang boleh bilang aku gila, edan,
atau kata serapah lainnya. Toh, kata – kata mereka akan hilang ditelan bumi
setelah fajar menyinsing beberapa jam lagi.
Malam ini, ditemani setan alas dan seribu
malaikat maut, aku kan bawa diriku dan jasad Cahaya ke Ngarai Keabadian.
***
Tujuh tahun yang lalu, aku bertemu Cahaya di
suatu universitas negeri di Kota Semarang. Waktu itu aku semester lima, dan dia
baru saja menjadi mahasiswa baru fakultasku, Sastra Inggris. Sebagai salah satu
anggota BEM, sudah selayaknya aku turut serta dalam mengorientasi semua
mahasiswa baru angkatan itu.
Cahaya
tidak begitu cantik. Dia hanya manis, dan berbinar. Terutama matanya. Mungkin
ini aneh bagi kebanyakan orang, karena setiap kali aku menatap matanya, setiap
kali itu pula aku merasa teduh dan nyaman. Selama hampir sebulan, aku terus
menjalin komunikasi dengan Cahaya. Dia orang yang supel, aktif, dan ulet. Walau
begitu, dia selalu terlihat salah tingkah jika bertemu denganku. Sudah banyak
sekali teman yang mengatakan bahwa anak ini punya rasa kepadaku. Melihat
kesempatan, aku berusaha mendekatinya. Dari yang awalnya hanya mengobrol, kami
mulai sering bersama. Mulai dari sarapan bersama di Warung Bu Tati sampai
mengantarkannya pulang. Toh, kos kami hanya berjarak 30 meter rupanya.
Ketika aku mengungkapkan rasa cintaku padanya,
ia menerimanya. Aku pun resmi berpacaran dengannya. Hari – hariku dengan Cahaya
sungguh sangat menyenangkan. Sebagai anak tunggal, aku kadang merasa kesepian.
AKu juga bukan tipe orang yang suka menjalin hubungan. Tapi, Cahaya berbeda.
Dia seperti belahan jiwaku. Kami memiliki banyak kesamaan, mulai dari warna
favorit sampai tokoh kartun kesayangan. Hubungan kami pun mulai bertambah
serius.
***
Tak terasa hampir dua tahun kami telah menjalin
hubungan. Seminggu yang lalu, aku mendapati bahwa Cahaya berbadan dua. Aku
tidak syok lagi, apalagi mengetahui betapa intens hubungan kami berdua. Sudah
saatnya pula aku membawa Cahaya ke tempat orang tuaku. Papa dan mama tahu kalau
aku sedang berpacaran, namun mereka bukan tipe orang yang suka ikut campur.
Mereka pun baru bertemu Cahaya sekali atau dua kali selama ini. Dengan tekad
bulat, aku jemput Cahaya dari kosannya dan langsung melaju.
Sesampai di depan rumah, aku lihat mobil L300
silver. Om Tanto sedang mampir rupanya. Sejak aku masih kecil, Om Tanto yang
merupakan sahabat SMA papa sering datang ke rumah. Dia sudah aku anggap om
sendiri dan pernah membawaku keliling Jakarta, kota tempat tinggalnya, saat
keluargaku mengunjunginya sepuluh tahun yang lalu. Namun aku lihat gelagat aneh
dari Cahaya. Dia terlihat kaget, bingung, dan
enigmatis. Walau begitu, toh kami tetap masuk.
“Bapak? Kok bapak di sini?”
“Cahaya?”
Keduanya tampak kaget. Sebentar? Cahaya? Om
Tanto? Bapak? AKu lihat papa dan mama terbelalak luar biasa. Om Tanto langsung
membawa Cahaya ke halaman depan. Aku tunggu Om Tanto dan Cahaya dengan was –
was untuk kembali ke ruang tamu. Dengan berapi – api, aku dan Cahaya
menceritakan semua yang telah terjadi. Mumpung Om Tanto ada di sini, sekalian
pula aku nyatakan lamaranku untuk meminang putrinya. Semua terungkap lancar
dari mulutku sampai aku mengetahui kalau aku akan meminang adik kandungku
sendiri.
***
Aku dan Cahaya sekarang menetap di kawasan
Puncak, Jawa Barat. Kami berdua lari dari rumah dan memutuskan untuk hidup
bersama. Cahaya mengalami keguguran, dipaksa minum jamu peluruh oleh Ibunya.
Kami berdua sepakat untuk tidak memiliki anak lagi karena ikatan darah yang
kami jalin. Walau begitu, kami tidak bisa terpisahkan dan cinta kami tetap
berkobar dalam dada.
Aku bekerja di salah hotel sebagai resepsionis
sekaligus translator jika ada tamu asing di salah satu hotel di tempat ini.
Cahaya membuka warung dan terkadang bekerja sebagai tour guide musiman saat ada
turis asing yang datang ke Puncak. Hanya saja, Cahaya agak berubah. Dia menjadi
sangat paranoid jika mengingat tentang kedua orang tua kami. Terkadang, aku
mendengar dalam tidurnya ia mengigau “Ampun, Pak! Ampun, Bu!” sambil menangis.
Sepertinya luka psikologi yang dialaminya cukup berat. Binar mata Cahaya
terkadang meredup. Apalagi setiap kali ia lihat tetangga membawa anaknya
bermain, atau sekedar menyusui bayinya. Aku bisa lihat kehampaan dalam hatinya.
Sering ia bawa pulang anak – anak tetangga dan ia beri mereka makanan atau
snack yang dijual di warung. Aku biarkan dia, toh hal itu bisa membuat dirinya
bahagia, bukan?
Kehidupan kami berlangsung nyaman dan damai. Sampai
suatu siang keluarga kami berdua mendobrak pintu rumah dan berusaha membawa
lari Cahaya.
***
Jam lima sore aku sampai di depan rumah. Aku
lihat mobil Avanza merah dengan plat Semarang yang sangat familiar di benakku. Tak
sampai satu menit, aku langsung tahu kalau itu mobil Papa. Aku langsung masuk
rumah. Aku lihat kursi terbalik dan meja makan yang berserakan. Aku bisa lihat
ceceran darah di atas lantai. AKu panik, terhenyak. Keringat dingin mengucur
deras dari dahiku. AKu cek setiap ruangan dan tidak menemukan siapa pun. Sampai
satu ruang terakhir yang belum aku masuki, yaitu kamar mandi di belakang rumah.
Rumah kontrakan ini memiliki dua kamar mandi, satu di belakang rumah dan satu
lagi di atas atap, tempat kami mencuci baju dan juga menjemurnya. Pintu kamar
mandi belakang terkunci rapat. Samar – samar aku bisa mendengar sesuatu dari
balik pintu itu. Sangat samar, sangat membingungkan. Seperti suara desahan
nafas yang memburu bercampur sedu yang sengaja ditahan.
“Cahaya, kamu di dalam sayang?”
Tidak ada balasan. Aku ketuk dan tidak ada
respons. Aku berusaha buka dengan tanganku dan ternyata terkunci dari dalam.
Aku mematung. Aku bingung, aku takut, aku panik! Aku tak tahu harus berbuat
apa? Apa perlu aku dobrak? Iya, aku harus dobrak! Aku pun mendobrak pintu itu.
Dan, aku bisa lihat Cahaya dibawah remang cahaya senja yang masuk menyorot
mukanya. Matanya nanar, tapi hampa. Saat ia menyadari kehadiranku, ia langsung
berdiri. Matanya berbinar, antara perasaan senang dan ketakutan. Dia
menghampiriku, memelukku, dan menangis. Kami berdua langsung jatuh tersungkur.
Aku berusaha menenangkan Cahaya, memberinya belaian kasih dan ciuman hangat di
kening. Dengan gontai, aku bawa dia dan membaringkan tubuh kecilnya di kasur.
Aku kembali ke kamar mandi belakang, menutupnya dengan pelan dan menguncinya
dari luar. Aku berusaha untuk tidak mengindahkan ceceran darah dan potongan
tangan yang menyeruak dari bak mandi.
***
Cahaya berubah. Setiap hari ia mengurung diri
di dalam kamar. Ia tidak mau aku masuk ke kamarnya, dan memaksaku untuk tidur
di kamar tamu. Aku tidak bisa menolak. Aku hanya ingin dia bisa menenangkan
dirinya. Setiap harinya, kami berdua hanya menggunakan kamar mandi atas. Tak
sekalipun kami pernah membuka pintu kamar mandi belakang. Lewat di depannya
saja sudah sangat jarang. Terkadang, aku sering mendengar suara aneh dari
dalamnya. Seperti suara kuku yang digesekkan ke pintu, atau suara tangisan
banyak orang. Aku tidak peduli, aku tidak percaya dengan setan.
Mobil papa sudah aku jatuhkan ke salah satu jurang
di daerah Jawa Tengah, yang pasti tidak akan mudah ditemukan oleh orang. Lama
kelamaan Cahaya mulai pulih dan sanggup membuka warung seperti biasa. Walau
begitu, ia tetap ingin tidur sendiri. Aku iyakan, yang penting ia bisa lebih
tenang. AKu juga rutin membawanya ke psikolog di Bandung, walau biayanya mahal,
setidaknya ada progress yang terlihat dari dalam diri Cahaya.
***
Sebulan berlalu. Kampung dikagetkan dengan
hilangnya beberapa anak tetangga. Mereka telah hilang sejak sore hari
sebelumnya. Entah kenapa, aku mempunyai perasaan yang tidak mengenakkan akan
hal ini. Sesampainya aku di rumah, aku ingin mengecek keadaan Cahaya. Ia
hilang. Walau begitu, ada pesan di atas meja kalau dia sedang ke pasar, hendak
membeli persediaan untuk warung tulisnya. Susasana rumah yang sepi membuat bulu
kudukku berdiri. Aku merasakan hal yang sangat tidak beres tentang rumah ini.
AKu tahu ada yang disembunyikan Cahaya dariku. Aku ambil kunci darti dalam
almari dan menuju ke kamar Cahaya. Seperti dugaanku, terkunci rapat. AKu buka
pelan – pelan dan masuk ke dalam. Tidak ada yang aneh. Aku buka lemari pakaian,
tidak ada apa – apa. Aku cek kolong kasur. Dan isinya kosong.
Suatu malam, setelah sekian bulan, Cahaya
mengajakku untuk kembali tidur bersama. AKu terima ajakannya dengan riang
gembira. Jam sembilan kami berdua sudah di atas kasur, Cahaya terlelap, dan
mataku mengatup. Aku peluk Cahaya dengan kedua tanganku dan merengkuhnya,
memberikan kehangatan di malam dingin Puncak.
Tengah malam, aku terbangun. Samar – samar aku
mendengar suara aneh. Suara hujan. Dan juga tangisan. Iya, tangisan! Aku
langsung sadar seratus persen dan turun dari kasur. ISak tangis itu berasal
dari luar kamar. Aku keluar, dalam gelap, kususuri asal suara itu. Seperti
ditarik intuisi, kakiku berjalan pasti ke arah belakang rumah. Nafasku memburu.
Tidak, ini tidak mungkin! Suara isak tangis itu berasal dari dalam kamar mandi
belakang!
Semua terasa sangat jelas sekarang. Tanpa
dikomando, aku dobrak pintu tersebut. Aku mendapati kamar mandi tersebut terang
di sorot cahaya bulan dari ventilasi. Dan, tergeletak tiga tubuh kecil,
meregang tanpa daya, dengan mata terbuka dan lidah menjulur keluar. Dalam
kesunyian itu, aku mendengar deru tangis yang luar biasa dari ketiga tubuh
kecil nan pucat itu. Ya Tuhan! Ya Tuhan! Ya Tuhan!
“Mas, anak – anak kita nakal Mas. Mereka bilang
aku pembunuh kakek neneknya. Mas tidak apa – apa kan kalau aku beri mereka
hukuman kecil?”
Tubuhku menegang. DI belakangku, ada Cahaya
dengan suara seraknya, menghujam nuraniku. Aku membalikkan badanku, melihat dia
membawa pisau dapur. Ya Tuhan!
“Mas, kok nakal banget sih gak tidur malem ini.
Aku hukum boleh ya?”
Dengan cepat, ia menghujamkan pisau itu ke arah
dadaku. Refleks, aku menghindar dan setidaknya membuat pisau itu meleset,
menggores dalam pinggangku. Darah pun mengucur deras. Aku mendorong tubuhnya
dan berlari menjauh. Ia mengejarku. Aku buak pintu belakang dan berlari ke a ah
hutan. Di tengah malam, di bawah rintik hujan ini, kami berkejaran dalam remang
kabut Puncak yang dingin. AKu terengah, aku takut! AKu masih bisa mendengar
derap lari Cahaya. Aku sembunyikan diriku di balik pohon pinus, sambil berusaha
menutup lukaku dengan tanganku. AKu atur nafasku, aku tak ingin ia tahu lokasi
persembunyian ini.
“Mas, jangan lari mas! AKu tahu mas sembunyi di
sini! Aku akan telusuri semua pohon di sini!”
Sial! Sampai di sini juga dia! AKu sudah tidak
bisa bergerak lagi. Sepertinya, luka fisik dan psikis yang aku alami cukup
untuk membuatku paralisis. Aku pasrah, aku terima jika aku harus mati malam
ini. Tapi, sebelum itu, aku pastikan agar akar permasalahan ini aku musnahkan.
“Nah, ketemu kamu mas!”
Aku bisa lihat Cahaya berlari ke arahku. Dengan
cepat ia hujamkan pisaunya ke dadaku. Dan di saat itu pula aku hujamkan batang
kayu pinus ke kepalanya. Sekali, dua kali, tiga kali, puluhan kali sampai
nafasnya tiada lagi.
***
Hujan telah reda. Aku bisa lihat rembulan
bersinar kembali dengan cantiknya. Dengan langkah gontai dan darah yang
mengucur deras dari dada, sampailah aku di sebuah sungai tepat di ngarai lembah
Puncak. Di seberang, aku lihat keempat orang tua kami dan ketiga anak tersebut
tersenyum kecil ke arahku. Dengan jasad Cahaya di atas kedua tanganku, aku
terjunkan kedua tubuh kami ke riak air yang mengalir tenang ke hilir.

