Redup Binar Cahaya

Hi guys!

Jadi, seminggu yang lalu aku dapet tugas buat bikin cerpen Bahasa Indonesia. Bu Dahlia, pengampu mapel tersebut, menghendaki kami semua untuk membuat cerpen yang telah diberikan alur awalnya. Dan semua berasal dari kisah nyata yang dialami (maksudnya, didapat) oleh Bu Dahlia sendiri. Jadi, ada dua alur cerita yang ditawarkan;

1. Saudara sesusu - kisah nyata
Di sini, ada seorang perempuan yang menikah dengan seorang lelaki. Setelah sekian tahun menjalin cinta, keduanya dikarunia beberapa anak dan hidup dalam susana yang harmonis. Suatu ketika, datang kakak si perempuan dari Kalimantan, meminta perempuan ini bercerai dengan sang suami karena si suami adalah saudara sesusunya.

2. Cinta Terlarang (atau apa deh, terserah aja judulnya) - kisah nyata
Seorang gadis dari Jakarta jatuh cinta dengan kakak kelasnya saat dia melanjutkan kuliah di Semarang. Mereka berpacaran dan akhirnya si gadis ini hamil diluar nikah. Saat si laki - laki meminta restu orang tuanya untuk menikahi si gadis, terungkap fakta mengejutkan bahwa si gadis ini adalah adik kandungnya sendiri.

Oke, jujur ini agak tough. Ceritanya udah dibikin dasarnya dan kita harus ngembangin sesuai imajinasi kita. Dua hari yang lalu, mulai dari jam 9 malam, aku buat cerpen ini dengan perombakan habis - habisan.

Ya, aku bikin cerita horor.

Kemarin, kami di kelas harus maju untuk membacakan cerpen kami. Ada yang sad ending, ada pula yang happy ending. Terutama karya - karya temen - temen di kelas yang bener - bener keren dan menyayat hati (hahaha, ini repetisi katanya lebay amat ya?). Jadi ngerasa aneh nih buat bawain cerita horror. 

Walau begitu, here we go! Enjoy this story - which gave my friend Dita a weird nightmare yesterday!

-------------------------------------------------------------------------------


Redup Binar Cahaya

Risqika Edni Doni Achsan/XII IA 1/23

Just a preview to the story. Credit; Google


Malam ini, hilang sudah semua akal logikaku.

Aku lihat hujan bertambah deras menghujam kulitku. Aku tak bergeming, tetap kulanjutkan langkah gontaiku. Bulan yang biasa menemani malam – malamku pun enggan menunjukkan diri. Aku tahu, setelah ini aku akan menemukan kebahagiaan. Semua orang boleh bilang aku gila, edan, atau kata serapah lainnya. Toh, kata – kata mereka akan hilang ditelan bumi setelah fajar menyinsing beberapa jam lagi.

Malam ini, ditemani setan alas dan seribu malaikat maut, aku kan bawa diriku dan jasad Cahaya ke Ngarai Keabadian.

***

Tujuh tahun yang lalu, aku bertemu Cahaya di suatu universitas negeri di Kota Semarang. Waktu itu aku semester lima, dan dia baru saja menjadi mahasiswa baru fakultasku, Sastra Inggris. Sebagai salah satu anggota BEM, sudah selayaknya aku turut serta dalam mengorientasi semua mahasiswa baru angkatan itu.

 Cahaya tidak begitu cantik. Dia hanya manis, dan berbinar. Terutama matanya. Mungkin ini aneh bagi kebanyakan orang, karena setiap kali aku menatap matanya, setiap kali itu pula aku merasa teduh dan nyaman. Selama hampir sebulan, aku terus menjalin komunikasi dengan Cahaya. Dia orang yang supel, aktif, dan ulet. Walau begitu, dia selalu terlihat salah tingkah jika bertemu denganku. Sudah banyak sekali teman yang mengatakan bahwa anak ini punya rasa kepadaku. Melihat kesempatan, aku berusaha mendekatinya. Dari yang awalnya hanya mengobrol, kami mulai sering bersama. Mulai dari sarapan bersama di Warung Bu Tati sampai mengantarkannya pulang. Toh, kos kami hanya berjarak 30 meter rupanya.

Ketika aku mengungkapkan rasa cintaku padanya, ia menerimanya. Aku pun resmi berpacaran dengannya. Hari – hariku dengan Cahaya sungguh sangat menyenangkan. Sebagai anak tunggal, aku kadang merasa kesepian. AKu juga bukan tipe orang yang suka menjalin hubungan. Tapi, Cahaya berbeda. Dia seperti belahan jiwaku. Kami memiliki banyak kesamaan, mulai dari warna favorit sampai tokoh kartun kesayangan. Hubungan kami pun mulai bertambah serius.

***

Tak terasa hampir dua tahun kami telah menjalin hubungan. Seminggu yang lalu, aku mendapati bahwa Cahaya berbadan dua. Aku tidak syok lagi, apalagi mengetahui betapa intens hubungan kami berdua. Sudah saatnya pula aku membawa Cahaya ke tempat orang tuaku. Papa dan mama tahu kalau aku sedang berpacaran, namun mereka bukan tipe orang yang suka ikut campur. Mereka pun baru bertemu Cahaya sekali atau dua kali selama ini. Dengan tekad bulat, aku jemput Cahaya dari kosannya dan langsung melaju.

Sesampai di depan rumah, aku lihat mobil L300 silver. Om Tanto sedang mampir rupanya. Sejak aku masih kecil, Om Tanto yang merupakan sahabat SMA papa sering datang ke rumah. Dia sudah aku anggap om sendiri dan pernah membawaku keliling Jakarta, kota tempat tinggalnya, saat keluargaku mengunjunginya sepuluh tahun yang lalu. Namun aku lihat gelagat aneh dari Cahaya. Dia terlihat kaget, bingung, dan  enigmatis. Walau begitu, toh kami tetap masuk.

“Bapak? Kok bapak di sini?”

“Cahaya?”

Keduanya tampak kaget. Sebentar? Cahaya? Om Tanto? Bapak? AKu lihat papa dan mama terbelalak luar biasa. Om Tanto langsung membawa Cahaya ke halaman depan. Aku tunggu Om Tanto dan Cahaya dengan was – was untuk kembali ke ruang tamu. Dengan berapi – api, aku dan Cahaya menceritakan semua yang telah terjadi. Mumpung Om Tanto ada di sini, sekalian pula aku nyatakan lamaranku untuk meminang putrinya. Semua terungkap lancar dari mulutku sampai aku mengetahui kalau aku akan meminang adik kandungku sendiri.

***

Aku dan Cahaya sekarang menetap di kawasan Puncak, Jawa Barat. Kami berdua lari dari rumah dan memutuskan untuk hidup bersama. Cahaya mengalami keguguran, dipaksa minum jamu peluruh oleh Ibunya. Kami berdua sepakat untuk tidak memiliki anak lagi karena ikatan darah yang kami jalin. Walau begitu, kami tidak bisa terpisahkan dan cinta kami tetap berkobar dalam dada.

Aku bekerja di salah hotel sebagai resepsionis sekaligus translator jika ada tamu asing di salah satu hotel di tempat ini. Cahaya membuka warung dan terkadang bekerja sebagai tour guide musiman saat ada turis asing yang datang ke Puncak. Hanya saja, Cahaya agak berubah. Dia menjadi sangat paranoid jika mengingat tentang kedua orang tua kami. Terkadang, aku mendengar dalam tidurnya ia mengigau “Ampun, Pak! Ampun, Bu!” sambil menangis. Sepertinya luka psikologi yang dialaminya cukup berat. Binar mata Cahaya terkadang meredup. Apalagi setiap kali ia lihat tetangga membawa anaknya bermain, atau sekedar menyusui bayinya. Aku bisa lihat kehampaan dalam hatinya. Sering ia bawa pulang anak – anak tetangga dan ia beri mereka makanan atau snack yang dijual di warung. Aku biarkan dia, toh hal itu bisa membuat dirinya bahagia, bukan?

Kehidupan kami berlangsung nyaman dan damai. Sampai suatu siang keluarga kami berdua mendobrak pintu rumah dan berusaha membawa lari Cahaya.

***

Jam lima sore aku sampai di depan rumah. Aku lihat mobil Avanza merah dengan plat Semarang yang sangat familiar di benakku. Tak sampai satu menit, aku langsung tahu kalau itu mobil Papa. Aku langsung masuk rumah. Aku lihat kursi terbalik dan meja makan yang berserakan. Aku bisa lihat ceceran darah di atas lantai. AKu panik, terhenyak. Keringat dingin mengucur deras dari dahiku. AKu cek setiap ruangan dan tidak menemukan siapa pun. Sampai satu ruang terakhir yang belum aku masuki, yaitu kamar mandi di belakang rumah. Rumah kontrakan ini memiliki dua kamar mandi, satu di belakang rumah dan satu lagi di atas atap, tempat kami mencuci baju dan juga menjemurnya. Pintu kamar mandi belakang terkunci rapat. Samar – samar aku bisa mendengar sesuatu dari balik pintu itu. Sangat samar, sangat membingungkan. Seperti suara desahan nafas yang memburu bercampur sedu yang sengaja ditahan.

“Cahaya, kamu di dalam sayang?”

Tidak ada balasan. Aku ketuk dan tidak ada respons. Aku berusaha buka dengan tanganku dan ternyata terkunci dari dalam. Aku mematung. Aku bingung, aku takut, aku panik! Aku tak tahu harus berbuat apa? Apa perlu aku dobrak? Iya, aku harus dobrak! Aku pun mendobrak pintu itu. Dan, aku bisa lihat Cahaya dibawah remang cahaya senja yang masuk menyorot mukanya. Matanya nanar, tapi hampa. Saat ia menyadari kehadiranku, ia langsung berdiri. Matanya berbinar, antara perasaan senang dan ketakutan. Dia menghampiriku, memelukku, dan menangis. Kami berdua langsung jatuh tersungkur. Aku berusaha menenangkan Cahaya, memberinya belaian kasih dan ciuman hangat di kening. Dengan gontai, aku bawa dia dan membaringkan tubuh kecilnya di kasur. Aku kembali ke kamar mandi belakang, menutupnya dengan pelan dan menguncinya dari luar. Aku berusaha untuk tidak mengindahkan ceceran darah dan potongan tangan yang menyeruak dari bak mandi.

***

Cahaya berubah. Setiap hari ia mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak mau aku masuk ke kamarnya, dan memaksaku untuk tidur di kamar tamu. Aku tidak bisa menolak. Aku hanya ingin dia bisa menenangkan dirinya. Setiap harinya, kami berdua hanya menggunakan kamar mandi atas. Tak sekalipun kami pernah membuka pintu kamar mandi belakang. Lewat di depannya saja sudah sangat jarang. Terkadang, aku sering mendengar suara aneh dari dalamnya. Seperti suara kuku yang digesekkan ke pintu, atau suara tangisan banyak orang. Aku tidak peduli, aku tidak percaya dengan setan.

Mobil papa sudah aku jatuhkan ke salah satu jurang di daerah Jawa Tengah, yang pasti tidak akan mudah ditemukan oleh orang. Lama kelamaan Cahaya mulai pulih dan sanggup membuka warung seperti biasa. Walau begitu, ia tetap ingin tidur sendiri. Aku iyakan, yang penting ia bisa lebih tenang. AKu juga rutin membawanya ke psikolog di Bandung, walau biayanya mahal, setidaknya ada progress yang terlihat dari dalam diri Cahaya.

***

Sebulan berlalu. Kampung dikagetkan dengan hilangnya beberapa anak tetangga. Mereka telah hilang sejak sore hari sebelumnya. Entah kenapa, aku mempunyai perasaan yang tidak mengenakkan akan hal ini. Sesampainya aku di rumah, aku ingin mengecek keadaan Cahaya. Ia hilang. Walau begitu, ada pesan di atas meja kalau dia sedang ke pasar, hendak membeli persediaan untuk warung tulisnya. Susasana rumah yang sepi membuat bulu kudukku berdiri. Aku merasakan hal yang sangat tidak beres tentang rumah ini. AKu tahu ada yang disembunyikan Cahaya dariku. Aku ambil kunci darti dalam almari dan menuju ke kamar Cahaya. Seperti dugaanku, terkunci rapat. AKu buka pelan – pelan dan masuk ke dalam. Tidak ada yang aneh. Aku buka lemari pakaian, tidak ada apa – apa. Aku cek kolong kasur. Dan isinya kosong.

Suatu malam, setelah sekian bulan, Cahaya mengajakku untuk kembali tidur bersama. AKu terima ajakannya dengan riang gembira. Jam sembilan kami berdua sudah di atas kasur, Cahaya terlelap, dan mataku mengatup. Aku peluk Cahaya dengan kedua tanganku dan merengkuhnya, memberikan kehangatan di malam dingin Puncak.
Tengah malam, aku terbangun. Samar – samar aku mendengar suara aneh. Suara hujan. Dan juga tangisan. Iya, tangisan! Aku langsung sadar seratus persen dan turun dari kasur. ISak tangis itu berasal dari luar kamar. Aku keluar, dalam gelap, kususuri asal suara itu. Seperti ditarik intuisi, kakiku berjalan pasti ke arah belakang rumah. Nafasku memburu. Tidak, ini tidak mungkin! Suara isak tangis itu berasal dari dalam kamar mandi belakang!

Semua terasa sangat jelas sekarang. Tanpa dikomando, aku dobrak pintu tersebut. Aku mendapati kamar mandi tersebut terang di sorot cahaya bulan dari ventilasi. Dan, tergeletak tiga tubuh kecil, meregang tanpa daya, dengan mata terbuka dan lidah menjulur keluar. Dalam kesunyian itu, aku mendengar deru tangis yang luar biasa dari ketiga tubuh kecil nan pucat itu. Ya Tuhan! Ya Tuhan! Ya Tuhan!

“Mas, anak – anak kita nakal Mas. Mereka bilang aku pembunuh kakek neneknya. Mas tidak apa – apa kan kalau aku beri mereka hukuman kecil?”

Tubuhku menegang. DI belakangku, ada Cahaya dengan suara seraknya, menghujam nuraniku. Aku membalikkan badanku, melihat dia membawa pisau dapur. Ya Tuhan!

“Mas, kok nakal banget sih gak tidur malem ini. Aku hukum boleh ya?”

Dengan cepat, ia menghujamkan pisau itu ke arah dadaku. Refleks, aku menghindar dan setidaknya membuat pisau itu meleset, menggores dalam pinggangku. Darah pun mengucur deras. Aku mendorong tubuhnya dan berlari menjauh. Ia mengejarku. Aku buak pintu belakang dan berlari ke a ah hutan. Di tengah malam, di bawah rintik hujan ini, kami berkejaran dalam remang kabut Puncak yang dingin. AKu terengah, aku takut! AKu masih bisa mendengar derap lari Cahaya. Aku sembunyikan diriku di balik pohon pinus, sambil berusaha menutup lukaku dengan tanganku. AKu atur nafasku, aku tak ingin ia tahu lokasi persembunyian ini.

“Mas, jangan lari mas! AKu tahu mas sembunyi di sini! Aku akan telusuri semua pohon di sini!”

Sial! Sampai di sini juga dia! AKu sudah tidak bisa bergerak lagi. Sepertinya, luka fisik dan psikis yang aku alami cukup untuk membuatku paralisis. Aku pasrah, aku terima jika aku harus mati malam ini. Tapi, sebelum itu, aku pastikan agar akar permasalahan ini aku musnahkan.

“Nah, ketemu kamu mas!”

Aku bisa lihat Cahaya berlari ke arahku. Dengan cepat ia hujamkan pisaunya ke dadaku. Dan di saat itu pula aku hujamkan batang kayu pinus ke kepalanya. Sekali, dua kali, tiga kali, puluhan kali sampai nafasnya tiada lagi.

***

Hujan telah reda. Aku bisa lihat rembulan bersinar kembali dengan cantiknya. Dengan langkah gontai dan darah yang mengucur deras dari dada, sampailah aku di sebuah sungai tepat di ngarai lembah Puncak. Di seberang, aku lihat keempat orang tua kami dan ketiga anak tersebut tersenyum kecil ke arahku. Dengan jasad Cahaya di atas kedua tanganku, aku terjunkan kedua tubuh kami ke riak air yang mengalir tenang ke hilir. 

You Might Also Like

5 comments

  1. Don sumpah ini sesuatu banget. I felt like holding my breath for the last quarter of the story.

    ReplyDelete
  2. Hahahaha makasih nadhila!
    How's life? :D

    ReplyDelete
  3. kak don, kata-katamu keren ^^b
    ngeri..
    tapi beberapa part ada yang kurang penjelasan ^^v

    ReplyDelete
  4. hahahaha iya dek ini sih cerpen ngebut 2jam-an. wkwkwkwkwkwk

    ReplyDelete

leave your reply here

INSTAGRAM @DONIACHSAN