Cerita Doni Achsan Terdampar ke UGM

I felt very bad. Seriously, I paid for a domain so I would write more. Turned out my last post was … six months ago.

I actually promised people that I would write about my adventure in Europe. Five months with experiences in more than twenty European countries should be enough for a yearlong blog series. Well, I did write something, but not here – I posted so many stories there in my Instagram page. There were always friends who actually told me “Don, kamu itu upload foto atau nulis cerpen sih?”

Fast forward ke bulan Oktober 2017. Saya tidak menyangka kalau sebentar lagi saya akan meninggalkan kampus kerakyatan ini. Rasanya baru kemarin saya duduk di kelas Mr. Floyd, heck yea, malah kayaknya baru kemarin saya daftar ulang UGM. Tidak fair jika saya tidak mengulas kampus tempat saya menimba ilmu selama ini. Apalagi banyak adik-adik Teknik Industri yang bilang ke saya "Mas Doni, tau enggak sebelum masuk sini aku baca blog kamu Mas"

Damn, @doniachsan, ternyata selama ini kamu banyak menjebak adik-adik yang polos tersebut untuk mengikuti jejakmu yang sebenarnya ... penuh akan penderitaan itu.

Finally, folks, saya akan menuliskan pengalaman saya menjadi mahasiswa kampus kerakyatan. Kampus yang katanya nomer satu di Indonesia menurut Kementrian Riset dan Teknologi Direktorat Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Ada juga sih pemeringakatan lainnya; UGM dapat nomor satu menurut 4icu dan peringkat dua menurut Webometrics. Saya tidak peduli dengan ranking sebenarnya. Yang penting universitas ini bagus … sangat bagus malah untuk ukuran sosok dari kota kecil seperti saya ini.

Kenapa UGM?

Banyak sekali teman-teman terutama adik-adik yang bertanya ke saya: kenapa memilih UGM? Saya sendiri juga tidak begitu tahu. Yang pasti sejak kecil UGM ini sudah dekat dengan saya. Waktu itu ibu saya menghadiri wisuda om saya dari Teknik Nuklir UGM. Ibu saya berjalan di balairung, menyusuri kemegahan gedung balairung yang mahsyur itu, dan bergumam “Ya Allah, semoga anak saya bisa diterima di kampus ini”.

Tahun 2000an saya sering ke Jogja; kakak saya sendiri yang berkuliah di UGM. Saat masuk ke gedung FTP (waktu itu gedungnya benar-benar masih baru. Keren banget pokoknya!) saya juga sudah kepingin masuk ke sini. Ibu saya sering bercerita kalau banyak murid-muridnya yang masuk ke UGM – dan hanya orang-orang pilihan saja yang bisa masuk ke kampus ini.

Padahal ya semua PTN juga memasukkan orang-orang pilihan sih … kalau enggak percuma dong ada SNMPTN, SBMPTN, dan tes-tes lainnya.

Dari SD jujur saya ingin masuk sastra Inggris atau arsitektur (di UGM) karena saya suka kedua bidang itu. SMP saya masih di pilihan yang sama, namun mulai suka jurusan sosial seperti HI atau Hukum. Saat saya SMA entah mengapa saya completely jatuh cinta dengan HI. Apalagi waktu itu saya lolos pertukaran pelajar AFS ke Amerika Serikat berkat beasiswa Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES)-nya Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Di Amerika sana malah saya sering memberikan presentasi mengenai Indonesia (hingga 77 kali!) ke berbagai instansi dan kelompok masyarakat.

Yang membulatkan tekad saya untuk HI adalah pengalaman Civic Education Workshop. Tidak ada angin hujan tiba-tiba saya memenangkan lomba esai yang diselenggarakan American Councils dan diberi kesempatan untuk terbang ke Washington D.C. selama seminggu. Di sana saya belajar langsung di jantung politik di Amerika Serikat. Bayangkan saja, seorang anak bau kencur yang baru berumur 17 tahun tiba-tiba diberi kesempatan berdiskusi dengan salah satu senator negara bagian Amerika Serikat di ruangan pribadinya (Wiiscoonsiiin!). Saya, dengan banyak kupu-kupu di dalam perut saya, menjelajahi Rayhart Office Building dengan rasa bangga yang luar biasa.

Bersama Senator Herb Kohl di Washington D.C.

Sungguh, saya ingin sekali menjadi seorang diplomat sampai saya pulang ke Indonesia. Kelas XII. GOD DAMNIT KELAS DUA BELAS COY! Banyak sekali pertimbangan yang harus saya proses. Apakah saya rela membuang nilai-nilai IPA saya untuk terjun ke bidang sosial? Saya lihat lagi nilai fisika dan matematika saya. Hmmm … kok sayang ya les bertahun-tahun dan membuangnya begitu saja. Saya lihat soal-soal SBMPTN klaster soshum … entah mengapa cacing-cacing integral terlihat lebih enak dilihat. Not that I did not like them. It was just … nope, my brain couldn’t take more than mata pelajaran UN IPA.

Saya kepikiran masuk arsitektur, sesimpel hobi saya yang suka menggambar. Tapi di arsitektur saya engga bisa mengembangkan kesukaan saya di bidang sosial dll. Nah, saya yang orangnya hitungan banget ini juga kepikiran hal yang sama kalau masuk sastra Inggris, HI, atau hukum. Di sana saya gak bisa ketemu dengan matematika or simply ngerjain soal-soal kuantitatif (Oh, boy, Doni pada saat itu belum tahu kalau cacing-cacing integral akan berevolusi menjadi Alaskan Bull Worms pas di kuliah).

Cacing integral pas kuliah itu kayak gini nih ...

Saya memutuskan untuk mencari jurusan dengan kombinasi logika berpikir kuantitatif (atau apapun itu, semoga dear readers ngerti maksud saya) namun masih berhubungan dengan hal-hal yang berbau sosial. Opsi pertama: Teknik PWK. Ditolak mentah-mentah oleh orang tua saya (padahal waktu itu saya sudah riset gaji dll. Intinya adalah saya sampai di kesimpulan bahwa teknik PWK menjajanjikan masa depan yang sangat cerah. Sayangnya orang tua punya pemikiran yang lain).

Pada suatu malam saya buka foto-foto selama saya di Amerika Serikat. Selain melihat bahwa saya semakin bulet di sana, saya juga lihat foto-foto saya bermain di dairy farm miliki host dad saya. Saya jadi teringat pegalaman-pengalaman menyenangkan selama berkunjung ke sana. SAYA JANJI SAYA AKAN CERITA APA YANG SAYA ALAMI DI SANA KARENA ITU LAH ALASAN SAYA MEMILIH TEKNIK INDUSTRI! Untuk detik-detik penerimaan saya di Teknik Industri UGM bisa buka link berikut ya:

Oke, Teknik Industri. Fast forward saya “nego” jurusan ini ke orang tua. Orang tua awalnya bersikukuh saya ambil akuntansi (tau kan suruh masuk ke mana habis ini? Itu lho kampus jalur cepat jadi PNS yang ngehits banget buat putera-puteri daerah), tapi melihat grade jurusan yang terbilang lumayan akhirnya orang tua termakan bujuk rayu anaknya. Waktu itu saya gak peduli mau kampus apa yang penting teknik Industri. Pilihan SBMPTN saya waktu itu Teknik Industri semua, urut dari passing grade paling tinggi ke paling rendah … di tiga urutan Teknik Industri paling atas di Indonesia.

Guru bimbel saya di GO pada histeris.

Ya iyalah! Passing grade ITB, UI, UGM itu tipis banget. Kalau satu enggak masuk ya pasti semuanya enggak masuk. Dengan nekad saya daftar SBMPTN dengan urutan tersebut untuk pilihan prodi yang sama.

D-Day SBMPTN. Hasilnya dikoreksi di bimbel. Kata guru-guru bimbel nilai saya tidak masuk salah satu passing grade sama sekali. Hati ini rasanya sedih banget mengingat setiap kali TO 70% tembus pilihan pertama dan 90% piihan kedua dan 100% pilihan ketiga. Saya pun kembali ke rumah dengan perasaan sedih, berharap bisa menebus kegagalan via UM UGM dan seleksi PBOS UGM.

D-Day pengumuman SBMPTN. Lengkapnya bisa lihat di curhatan saya yang satu ini ya soalnya sebagian curhat saya di post ini ternyata pernah diulas di post empat tahun yang lalu tersebut. Intinya saya keterima pilihan ketiga.

Yak, UGM adalah pilihan ketiga saya.

Rasanya saya gak cocok jadi salah satu Mapres UGM. Untung waktu seleksi dulu tidak ditanya UGM pilihan ke berapa. HAHAHAHA.

I guess I should stop writing this post for now. Kejelakan saya selama ini adalah selalu bikin draft blog panjang kali lebar (bisa sampai 8 halaman Word). Ketika saya rehat sejenak … eh, lupa dilanjutin. Sebulan kemudian udah lupa dulu mau nulis apa. Jadi maafkan saya harus say sayonara say (halah!) sekarang, insya Allah dilanjutkan secepat mungkin.

Auf Wiedersehen!

Doni

You Might Also Like

2 comments

leave your reply here

INSTAGRAM @DONIACHSAN